Kamis, 08 Desember 2016

Ketika Novel di Film kan

Saya pertama kali menonton novel yang di filmkan itu adalah "Ayat-Ayat Cinta" dan saya sangat kecewa..


Film itu bagi saya memporak porandakan imaginasi saya. Dari pemain-pemainnya yang menurut saya sangat tidak menggambarkan benak imaginasi saya, hingga setting keindahan background jauh dari yang terputar di pikiran saya ketika membaca.


Fedi nuril berperan sebagai fahri, laki-laki yang dalam imaginasi saya tuh ganteng dan bukan seperti fedi nuril lah ya..  (meski Fedi nuril sih ganteng juga kok... Haha)...

Pokoknya nih film bikin saya illfeel bangeeeet... nget... nget.... Keindahan buku ayat-ayat cinta jadi hilang lenyap tak berbekas... *haha lebay...

Kemudian saya juga sempat baca novel Harry Potter yang pertama... wuih bagus banget, menurut saya (cuma yang pertama doang yang bagus, kemudian saya dah males baca yang selanjutnya, karena pusing dengan istilah-istilah sihirnya haha...) dan kemudian Filmnya muncul di tahun 2010... Film Harry Potter gak separah Ayat-ayat cinta dalam memporak-porandakan imajinasi... Tokoh Harry Potter gak jauh berbeda lah dengan gambaran yang ada di benak saya... tapi tetap saya lebih suka novelnya... karena kalau film saya merasa kurang terkoneksi, nah kalo pas baca bukunya saya sampe nangis dibagian si Harry Potter suruh tidur di lemari bawah tangga itu tuuh... 

Ada lagi Buku Sherlock Holmes yang di Filmkan... Malah saya gak gitu nyambung nontonnya... haha... bebel apa gimana gak tau deh... cerita di filmnya menurut saya gak runut, malah bingung deh...

Semenjak itu, saya malas untuk menonton film yang novelnya sudah pernah saya baca. Saya akan memilih jika saya sudah baca novelnya, untuk apa saya nonton filmnya... nah kalau saya belum baca novelnya, it's ok untuk nonton filmnya.... Rasanya cukup menyakitkan apabila imaginasi diobarak abrik seperti kasus "Ayat-Ayat Cinta" itu...

Seperti Film Tespack, saya cuma nonton filmnya, jadi gak masalah lah ya, saya gak berekspektasi soal siapa pemeran utamanya... dan gak masalah kalau yang jadi tata si Acha Septriansa... 

Memang novel dan film itu dua dimensi yang berbeda... jika satu novel di filmkan, jangan pernah berekspektasi agar film itu sesuai dengan imajinasi kita... Banyak yang akan berubah apabila novel difilmkan... 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar